Kategori

Sunday, July 8, 2012

Roma 15: 1-13

Pendalaman Alkitab
Pembahasan    : Roma 15:1-13
Pembicara        : Pdt. Kim Jong Kuk, D.Miss
Hari/Tanggal    : Rabu, 16 April 2003

Sharing
1    Kalau baca Roma 15:1-13, Paulus mengajak orang percaya dan tidak, bahwa kita harus memuliakan Tuhan. Yesus tidak mencari pribadi-pribadi, tetapi mengajak kita untuk memuliakan Tuhan. Dalam ayat 9, ada alasan kita memuliakan Tuhan yaitu karena rahmatNya. Firman Tuhan yang kita peroleh, kita kembalikan pada Tuhan. Arus Firman Tuhan, dan berkat kita terima, dan kita perlu menaikkan ucapan syukur dalam kehidupan kita. Ayat 13, Roh Kudus yang menguatkan kita, kemampuan untuk memuliakan Tuhan. Tanpa Roh Kudus, ibadah akan berakhir dengan sia-sia.
2    Baca dari artikel bahasa Mandarin, yang menguraikan secara khusus Roma 15:1-3, menganjurkan kita, ketika kita disakiti orang lain, anggap saja orang itu sedang sakit, sehingga kita bisa lebih toleran, lebih sabar dan bisa menerima, sehingga memungkinkan kita dapat berdoa bagi orang tersebut, untuk karakter, pembawaan dan kerohaniannya.
3    Ada istilah lemah dan kuat. Ketika terima Kristus, kita ada dalam proses pertumbuhan. Setiap orang punya proses pertumbuhan yang beda-beda, sehingga terjadi ada yang sudah kuat, ada yang masih lemah. Di ayat 6, kita dituntut, dengan satu hati dan satu suara untuk memuliakan Allah. Kita harus punya satu hati dan satu suara, meskipun kita berbeda-beda. Ayat 1, yang kuat wajib menanggung kelemahan orang-orang yang tidak kuat.
Masalah: saling menerima, bagaimana? Ayat 2, membangun, mencari kesenangan sesama untuk membangunnya. Tidak mudah untuk memperhatikan kebutuhan orang lain. Menjadi orang Kristen sama seperti menjadi seorang pedagang. Matsusitha berkata, dengan melihat adanya kebutuhan orang, kita berusaha memenuhi.
Bukan cuma kebutuhan, tetapi mencoba membuat hati orang lain senang dan hal ini memang tidak mudah. Saling menolong, membantu, membangun, ada persekutuan yang bukan sekedar seperti persekutuan yang dianalogikan dengan sapu lidi disatukan dan diikat, tetapi lebih seperti sebuah tikar yang dianyam, sehingga kuat sekali. Sapu lidi hanya tergantung ikatan.
Ini yang diharapkan rasul Paulus, persekutuan, yang terdiri dari orang yang kuat dan lemah, dapat saling menyenangkan, sehingga menjadi satu hati dan suara dan memuliakan Allah. Jika kita ingin bersatu, seperti Yesus bersatu dengan Allah, orang lain akan memuliakan Allah, bangsa-bangsa akan memuliakan Allah ketika melihat orang Kristen bersatu. Bersatu bukan seperti sapu lidi, diikat oleh satu organisasi, tetapi dianyam satu sama lain, betul-betul bersekutu, ada persatuan yang kuat.
4    Roma 15:6-7, Tuhan menerima kita, Tuhan tidak membedakan kita dengan melihat warna kulit, Tuhan tidak membedakan apakah kita berdosa atau tidak, semuanya Tuhan terima. Di mata Tuhan tidak ada perbedaan satu sama lain. Tuhan mau kita seperti yang ditulis dalam ayat 6, memiliki satu hati dan satu suara. Tuhan tidak ingin kita bersatu dalam sesuatu yang kita mau, misalnya golongan tertentu, ajaran gereja tertentu. Kita memang berbeda, tapi harus punya satu hati menyembah dan mencari Tuhan, melayani Tuhan, dalam nama Yesus Kristus. Itu yang Tuhan rindu supaya kita yang berbeda-beda menjadi satu hati dalam satu pelayanan.
Persekutuan ini terdiri dari bermacam golongan, ajaran agama, tetapi dapat bersatu memuji melayani, belajar, meningkatkan pengetahuan rohani, supaya rohani dapat bertumbuh.
Tuhan sewaktu menciptakan Taman Eden, pasti di Taman Eden tidak hanya ada satu jenis bunga. Pasti Tuhan menciptakan Taman Eden dengan bermacam-macam bunga sehingga Taman Eden kelihatan lebih indah. Walaupun kita bermacam-macam denominasi, agama, ajaran, Tuhan mau kita seperti bunga-bunga itu, mengeluarkan keindahan masing-masing supaya taman menjadi menarik, supaya orang dapat melihat Tuhan melalui pelayanan kita. Tuhan mau kita punya satu hati, satu suara, hanya Yesus yang kita sembah. Hal-hal yang lain tidak dipersoalkan oleh Tuhan.
Minggu ini adalah minggu sengsara Yesus, kita renungkan bahwa Tuhan itu menderita oleh karena kita, menderita bukan karena Dia memilih apakah kita baik atau tidak. Kita berdosa, kita datang dan mendapat keselamatan. Tuhan mau setelah kita mengenal Dia, kita lebih lagi mengasihi Dia. Bagaimana dalam kehidupan kita, kita memikirkan kebaikan Tuhan, setia melayani Tuhan, lebih mengasihi Yesus.
Ketika kita merenungkan Yesus yang menderita, bahkan segala milikNya, Dia serahkan semuanya, hanya untuk menyelamatkan kita, mengasihi kita, walaupun kita adalan orang yang berdosa. Hukuman dosa adalah mati, tetapi di hadapan Tuhan, kita tidak ada bedanya, Dia tidak membedakan kita, Dia tidak memisahkan kita apakah kita berdosa atau tidak, dari golongan satu atau golongan lain. Yesus tidak membedakan, Dia mau kita bersatu dalam satu hati, satu suara untuk mencari Tuhan, mengenal Dia. Dia mau menyelamatkan kita, supaya kita tidak hanya menyelamatkan diri kita saja, tetapi kita lebih mengasihi Dia, melayani Dia dengan lebih sungguh, satu hati dalam melayani Dia, mencari jiwa, dalam berbuat sesuatu, supaya orang lain melihat Yesus dalam hidup kita. Karena dalam Tuhan ada perubahan dalam hidup kita, kita menjadi orang yang baru karena Yesus, melalui kita orang mencari Yesus, orang mengaku Yesus adalah Allah yang hidup, orang datang bermazmur, mengenal Yesus. Kita harus mengasihi Yesus terlebih dahulu, agar orang-orang dapat datang mengenal Yesus melalui kita.
5    Dulu saat saya dalam keadaan yang sangat susah, Tuhan yang sempurna datang pada saya, membangunkan saya.
Tidak mudah hidup di dunia. Di sekolah kita diajarkan supaya semua orang secara individu harus jadi jagoan. Dalam setiap ulangan kita selalu berpikir untuk mengalahkan orang lain. Sehingga setelah kita lulus sekolah, kita menjadi manusia yang sangat selfish, tidak peduli pada orang lain, hanya memikirkan diri sendiri. Saat kita dapat nilai bagus di sekolah, kita bangga, karena kita berpikir kita menjadi orang kuat. Saat menjadi pemimpin, kenyataannya tidak semua bawahan adalah orang pintar. Ini contoh si kuat dan si lemah dalam kehidupan nyata. Pemimpin dalam perusahan sebagian besar adalah lulusan terbaik dari universitas, tetapi tidak dapat memimpin bawahannya, karena dengan mentalitas kepintarannya, dia berusaha memaksa bawahannya punya mentalitas yang sama dengan dia, padahal bawahannya memiliki mentalitas yang jauh lebih rendah.
Tetapi pelayanan Kristus lain, Dia yang sempurna, punya nilai 10. Saat Dia datang, mungkin kita cuma punya nilai kecil, tetapi ketika Dia bersama-sama dengan kita, Dia mengangkat kita, Dia tidak melihat kesempurnaan yang Dia miliki, Dia mau bersama-sama dengan kita mulai dari nilai yang kita miliki, supaya di kemudian hari nilai kita meningkat.
Roma 15, harus disimpulkan sebelum maksud dan tujuan Roma ditulis:
a.    Bagaimana menyambut saudara-saudara yang lemah - Roma 14:2.
b.    Jangan menghina satu dengan yang lain - Roma 14:3.
c.    Jangan menghakimi saudaramu - Roma 14:4.
d.    Jangan membuat temanmu jatuh dalam dosa - I Kor 8:7-13.
e.    Bagaimana menjadikan yang lemah dalam kasih Kristus dan memiliki kasih Kristus - Roma 14:14-23.
f.    Harus selalu memperlihatkan spirit dalam Kristus. Kita yang kuat harus memperlihatkan bahwa kita punya spirit Kristus, berjalan bersama-sama dengan Kristus. Di tempat ini ada yang lemah ada yang kuat, masing-masing punya kekuatan dan kelemahan yang berbeda-beda. Jika kita kuat, jangan buat saudara lain jatuh.
6    Roma 15:3, jujur dalam kehidupan ini, aktivis, hamba-hamba Tuhan, gembala sidang atau pendeta, karena kita manusia, tanpa sadar, saat kita melayani dengan baik, pujian datang. Tetapi saat lemah, jatuh, karena sikon, bukan direncanakan, sehingga jatuh, orang akan mencerca.
I Taw 16:22, seringkali dalam kehidupan kita sebagai aktivis, saat jatuh. Kristus juga tidak mencari kesenanganNya sendiri.
Saat ada teman-teman yang jatuh, berdoa pada Tuhan untuk menolong, menguatkan dan meneguhkan dia. Yosua, saat Musa mati, dalam Yos 1, kata “kuatkan dan teguhkanlah hatimu”, diulangi 4 kali untuk menguatkan Yosua.
Seringkali saat kita melihat teman-teman kita jatuh, kita tidak doakan, tetapi kita justru menunjuk dan membuat dia semakin terperosok. Tuhan memberi kekuatan untuk mendoakan bahkan untuk mengambil kesulitan teman kita.
Masa-masa sengsara Yesus, Yesus sedang diombang-ambingkan, Dia dicaci maki ketika kita masih berdosa, Dia melakukan misiNya dengan kasih yang luar biasa. Jangan menghina apalagi menghakimi. Ambil waktu untuk berdoa.
7    Roma 15:1, kita harus belajar Alkitab lebih dalam, karena sikap kita yang sekarang menentukan respon kita terhadap apa yang terjadi. Pendapat umum, kultur, personal decide, terkadang lebih mempengaruhi kita, bukan perkataan dari Tuhan. Kita harus baca dari Alkitab, supaya sikap kita menjadi lebih baik.

Pembahasan
Roma 15, merupakan satu kebenaran Firman Tuhan yang dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri. Kita sudah mempelajari kitab Roma 1-14, dengan tema: kita dibenarkan oleh Tuhan, bukan kita yang memiliki kebenaran, kita dibenarkan oleh Tuhan dengan kasih karunia dan anugrahNya.
Roma 15, merupakan kesimpulan dalam kitab Roma, bagaimana sesungguhnya cara kita hidup.
Ada istilah lemah dan kuat dalam Roma 15, tetapi kata kuat dan lemah jangan disalahartikan. Manusia tidak dapat menilai siapa yang kuat siapa yang lemah, siapa yang lebih kuat. Memang dunia ini dunia persaingan, sehingga tanpa sadar, dalam watak kita ada persaingan dan keinginan untuk lebih unggul, pintar dan hebat. Konsep itu sudah tertanam dalam hati kita, walaupun kita sudah mengenal Tuhan. Sehingga kita sering secara tidak sadar membandingkan diri kita dengan orang lain dalam berbagai faktor. Inilah yang sering membuat terjadinya perselisihan satu dengan yang lain.
Apa yang ditulis dalam Roma 15, tidak dapat lepas dari doa yang Yesus naikkan sebelum Dia naik ke salib, yang merupakan dasar, fondasi, isi hati Tuhan, kerinduan Tuhan, untuk kita. Yoh 17:1-26, fokus pada ayat 21-23 yang menjadi fondasi dan kebenaran dari pesan yang ada dalam Roma 15. Doa syafaat Yesus dibagi atas 3 bagian:
1.    Untuk diri sendiri.
2.    Untuk murid-murid.
3.    Untuk umat Kristiani pada umumnya.
Kesatuan dan persatuan antar murid Yesus dan antar anak-anak Tuhan, merupakan kerinduan hati Yesus. Kesatuan itu merupakan satu persekutuan dari hati ke hati. Dalam doa ini, kita dapat melihat betapa besar kasih Yesus. Relationship antar kita dengan Tuhan diibaratkan seperti Gembala dan domba, tidak hitung-hitungan, penuh kasih sayang dan pengertian. Kesatuan antara murid-murid akan membawa dunia menjadi percaya.
Tujuan kedatangan Yesus ke dunia adalah supaya dunia percaya Yesus sebagai Mesias dan juru selamat.
Kesatuan dan sikap saling menerima, merupakan implikasi dan aplikasi dari iman dari seseorang.
Sikap kita yang saling menerima, merangkul dan saling memperhatikan, merupakan bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengenal hati Tuhan. Tidak sama dengan konsep saling menerima, merangkul dan memperhatikan dalam hal duniawi.
Orang dunia saling menyenagkan dan memperhatikan. Misalnya jika merasa letih dan capek, mereka pergi minum-minum. Kesannya lebih menyenangkan, tetapi berbeda dengan konsep orang Kristen. Konsep menyenangkan, menerima dan memperhatikan dunia beda dengan yang ada dalam Yesus. Orang-orang yang berkumpul karena mengkonsumsi narkoba, kadang-kadang lebih kompak dari persekutuan orang percaya. Orang-orang gang juga siap mati untuk temannya. Itu satu kebanggaan bagi mereka.
Kesatuan untuk menyenangkan satu sama lain, bukan dengan sikap duniawi, tetapi ada hakekat kekristenannya. Yesus berkali-kali mengungkapkan kesatuan, saling menerima, supaya dunia percaya.
Sikap dan tingkah laku kita terhadap dunia sangat penting. Jangan munafik.
Yoh 17:23, melalu kesatuan, saling menerima, menolong dan persekutuan yang indah merupakan bukti bahwa mereka sungguh-sungguh memiliki hati Tuhan.

Mengapa Paulus mengatakan kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat? Apakah Paulus merasa dia kuat?
Apakah kita yang membaca firman ini juga kuat? Siapa yang kuat dan lemah?
Pengertian “yang kuat” bukan dinilai dari sudut pribadi manusia, tetapi orang yang kuat adalah yang sudah dikuatkan oleh Yesus.
Kuat bukan penilaian dari duniawi. Kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan, lahir baru, memiliki iman yang benar, mengasihi Tuhan adalah orang yang kuat, karena Yesus ada di dalam hati kita. Pengertian kuat jangan diartikan dengan cara membandingkan diri dengan orang lain, sebab dari situ bisa timbul kesombongan, sifat yang mementingkan diri sendiri.

Mengapa masih ada sikap mementingkan diri sendiri dalam diri orang yang sudah Kristen?
Kita kuat karena kita mengenal Tuhan, anugrah dan pengorbanan Tuhan. Kita kuat bukan dari hasil latihan kita, tetapi karena Tuhan telah menyelamatkan kita. Kita tidak kuat, tetapi dikuatkan oleh Yesus. Di mana ada Yesus di satu ada kekuatan.

Bila kita melihat, orang Kristen dari latar belakang Yahudi dan kafir, ada suatu gap. Orang Kristen Yahudi merasa belum puas, merasa mereka adalah orang Kristen kelas satu, yang lain kelas dua, ada semacam diskriminasi. Maka Paulus mengatakan, secara lahiriah, historical background, mungkin kita kuat, tetapi orang yang benar-benar sungguh-sungguh kuat adalah orang yang mengasihi Tuhan.

Tanda dari persekutuan yang sejati, yang menjadi bukti bahwa kita sungguh-sungguh meyadari kasih Tuhan, adalah adanya sikap saling memperhatikan – care. Kita yang sudah dikuatkan oleh Tuhan, yang sungguh-sungguh mengenal hati Tuhan, harus memiliki kewajiban untuk peduli pada adik-adik rohani kita. Sikap peduli itu penting, pastoral care, dimana pendeta yang lebih senior yang lebih bijaksana harus peduli pada pendeta yang lebih muda.
Sambil kita bertumbuh, kita harus peduli pada adik-adik rohani, ada mentorship, harus jadi mentor, memberi pengarahan yang baik, sehingga ada win-win dalam kehidupan rohani, karena kita satu keluarga besar.
Keluarga sifatnya berbeda dengan organisasi. Sumber kehangatan dalam keluarga adalah kasih, perhatian, pengertian. Implikasi dan aplikasi dari kasih adalah sikap yang peduli, memperhatikan dan memikirkan. Tetapi kita tidak boleh mengasihi dengan mentolerir orang yang malas. Care, peduli dalam arti perlu disiplin dan ketegasan.
Care berarti menanggung kelemahan dengan kasih, jangan menyerang dengan kritikan.
Ada sikap understanding dan care seperti Yesus care pada kita, itu yang harus kita teladani.

Roma 15:2, istilah membangun yang ditulis sifatnya sangat positif. “Membangun” merupakan satu proses pertumbuhan, melalui peranan dan mentoring kita kepada adik-adik rohani, kita akan bertumbuh bersama-sama, saling membangun. Ketika kita bertumbuh, Tuhan akan bersukacita. Jika kita bertengkar, saling kritik, Tuhan akan sedih. Jangan menyalib Tuhan lebih dari satu kali.

Teladan yang ajaib dalam hal yang kuat menolong yang lemah dapat kita lihat dalam pribadi Yesus. Yesus menanggung segala kelemahan kita. Ini dapat kita kaitkan dengan hal mengampuni. Bagaimana kita bisa mengampuni jika kita tidak memahami orang lain. Ketika kita melihat dengan belas kasihan Yesus, kita akan dapat memahami orang lain.

Roma 15:3, Yesus bukan hanya menanggung dosa manusia, tetapi relationship dan misunderstanding orang-orang Yahudi yang begitu membenci Dia, Yudas Iskariot yang menghianati dan menjual Dia, Petrus yang jatuh bangun dan menyangkal Yesus. Hal-hal seperti itu adalah hal yang berat bagi Yesus secara manusia, sepertinya semua orang meninggalkan Dia, murid-murid secara tidak langsung melemparkan batu dan membebani Yesus.
Petrus berani menyangkal Yesus. Tanpa pimpinan Roh Kudus, kita tidak akan bisa kuat. Orang yang kuat secara manusia, suatu ketika bisa jatuh atau bangkrut. Orang yang memiliki hati Tuhan adalah orang yang kuat. Bukan karena keahlian, pintar, menguasai Firman Tuhan, memiliki kedudukan ataupun pendidikan, sehingga seseorang itu dikatakan kuat.
Standar dasar untuk menolong orang yang lemah adalah Yesus.
Alkitab, Firman Tuhan, merupakan sumber kekuatan bagi kita.

Roma 15:4, sebenarnya kita tidak sanggup menolong orang lain karena seringkali sebelum memikirkan orang lain kita sudah emosi, sebab ada sifat bersaing yang tertanam dalam hati kita.
Ada 2 istilah penting dalam ayat ini : ketekunan dan penghiburan dari kitab suci:
1    Ketekunan – buah Roh. Ketekutan dan kesabaran merupakan kekuatan dan bukti dari kedewasaan iman kita. Ketekunan dalam bahasa Yunani  hupumone, yang artinya hidup di bawah sesuatu yang berat. Di dunia semua sangat cepat dan butuh kecepatan, sehingga membutuhkan adanya ketekunan. Kita belajar ketekunan melalui Firman Tuhan.
2    Penghiburan. Seorang Kristen yang punya visi, sering mengalami kesepian. Disaat kita mau mengikuti jalan yang benar, tetapi saat melihat semua orang ikut jalan lain yang kelihatannya enak, kita merasa kesepian. Dalam keadaan demikian ada penghiburan dari Firman Tuhan, bukan penghiburan dari dunia seperti di diskotik, minum-minum, jalan-jalan.
Orang yang sungguh-sungguh merasakan ada penghiburan dalam Firman Tuhan, dia sudah dewasa. Kita harus kembali pada Firman Tuhan
Orang yang merasakan ada penghiburan dalam Firman Tuhan menunjukkan kedewasaan dalam Tuhan.
“Saya tidak dapat menolong orang lemah, tetapi Firman Tuhan yang menolong saya untuk menolong orang yang lemah”.
Penghiburan bukan dari dunia, uang ataupun jabatan. Bahkan jabatan yang semakin tinggi makin kesepian. Penghiburan yang sejati adalah yang dari Tuhan.
Orang yang sungguh merasakan ada penghiburan dalam Firman Tuhan, komitmennya selalu didasarkan pada Firman Tuhan. Apa yang Firman Tuhan sarankan akan diikuti.

Kita tidak akan sanggup menolong orang lain dengan kekuatan kita sendiri. Tetapi karena Tuhan memerintahkan kita untuk menolong orang lain, di situ ada kekuatan dan ada berkat.
Contoh: semalam suntuk Petrus tidak dapat ikan, tetapi karena menurut perkataan Tuhan, dia mau dan dia mendapat banyak ikan.
Yesus yang menanggung seluruh dosa kita, tetapi dia tetap mau menghibur kita.

Ketekunan adalah sikap hati yang sangat penting.
Roma 15:4, kekuatan untuk mengasihi orang yang lemah adalah Firman Tuhan.
Roma 15:5-6, merupakan suatu doa. “Memuliakan Allah”, kesatuan untuk memuliakan Allah. Kita akan mampu menanggung kelemahan orang lemah denga cara: kembali pada Firman Tuhan dan kembali pada doa.
Doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Sepanjang hari kita harus awali dengan doa. Tanpa doa, kualitas hidup akan berbeda, karena Tuhan memampukan kita.
Sebelum Yesus memulai pelayananNya, Dia berdoa puasa selama 40 hari.
Sebelum meninggalkan dunia, Dia juga berdoa di taman Getsemani.
Perlu ada balance life dalam kehidupan rohani. Kegiatan pelayanan jangan terlalu ekstrim dibandingkan dengan doa. Doa harus seimbang dengan kegiatan pelayanan.

Roma 15:7, merupakan satu aplikasi untuk dapat menerima satu dengan yang lain, tetap untuk kemuliaan Allah. Melalui saling mengasihi, menerima, dunia tahu bahwa Yesus diutus oleh Allah, Yesus mengasihi orang-orang. Melalui hidup kita dunia mengenal Kristus adalah sesuatu yang memuliakan Allah.
Acceptance, saling menerima, adalah sikap yang harus dimiliki orang Kristen, karena itu merupakan perintah dari Tuhan, karena kita diterima oleh Tuhan, kita tidak berhak menolak manusia. Kita dilayani oleh Tuhan sehingga kita harus melayani sesama kita.

Roma 15:8-12, merupakan isi hati Tuhan, bukan Tuhan mementingkan orang Israel, tetapi orang Israel hanya dipilih sebagai alat, agar bangsa-bangsa lain dapat mengenal Allah. Kasih Allah terhadap semua bangsa sama, baik terhadap bangsa Israel maupun kafir.
Orang Kristen dari latar belakang Yahudi, mereka bersyukur karena mereka dipilih Allah, karena mereka juga harus menyelamatkan bangsa-bangsa yang lain.

Roma 15:13, juga merupakan doa. Ada ditulis siapa sesungguhnya Allah yaitu Sumber Pengharapan, orang yang punya pengharapan hidupnya tidak pesimis.
Allah adalah Sumber Pengharapan, sasaran pengharapan kita, bukan puji-pujian dari orang-orang di sekitar kita.
Allah adalah Sumber Ketekunan, Penghiburan dan Pengharapan. Ini tidak dapat dijualbelikan, karena merupakan anugrah dari Tuhan.
Semakin kita dekat dan mengenal Tuhan, sifat-sifat itu makin kelihatan dalam hidup kita.
Ada istilah-istilah yang bernilai dan penting bagi rohani kita dalam ayat 13: pengharapan, sukacita, damai sejahtera, iman, kekuatan Roh Kudus yang berlimpah-limpah dalam pengharapan, kepenuhan dalam pengharapan.

Orang yang kaya iman adalah orang yang care pada semua orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda.
Untuk bisa care pada orang lain, perlu kesabaran, ketekunan, pengertian dan bahkan kita harus siap mengampuni mereka dan mendoakan mereka.
Ada beberapa tahap pengampunan: pemahaman, pengorbanan, penerimaan, penghapusan, baru kemudian terjadi persekutuan kembali.
Kebanyakan orang Kristen berhenti sampai penghapusan, tidak mau kembali ke persekutuan, tidak mau memulihkan persekutuan.
Kasih Kristus atau pengertian yang ditulis dalam Roma 15, menyatakan bahwa pengampunan tidak hanya berhenti sampai tahap penghapusan saja, tetapi dalam pengampunan harus kembali pada persekutuan. Dalam proses itu memang butuh banyak pengorbanan. Saat kita berkorban, ingat pengorbanan Kristus.
Kembali pada Firman Tuhan. Yesus selalu berdoa, maka kita juga perlu belajar berdoa.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment